Keringat Dan Darah
Beh, dari judulnya aja udah keren dan udah tergambar. Tapi lebih enak kalo saya ceritain sedikit sebuah kisah tentang Keringat Dan Darah.
Pada suatu hari, atau pada suatu ketika juga boleh. Secara tidak sengaja bertemulah 4 pemuda di sebuah tempat latihan perang. Beneran deh, 4 pemuda tadi bertemu secara tidak sengaja, dan belum saling kenal satu sama lain. Bertemu di tempat latihan perang seperti milik TNI, atau Kopasus, atau apalah tempat latihan tempat orang – orang berotot yg siap perang. Tujuan mereka datang jelas untuk perang, tapi karena ilmu dan keahlian mereka pas-pasan, bahkan ada yang kurang, bahkan ada yang belum tau apapun, makanya mereka datang ke tempat latihan, agar tidak salah alamat.
Salah satu pemuda memang seorang yang sudah punya keahlian diatas yang lainnya. Tinggal dilatih sedikit dengan penuh kesabaran, maka dia akan siap untuk perang.
Pemuda dua ini termasuk bawahan pemuda satu, karena berasal dari tempat yang sama. Setidaknya jika berasal dari tempat yang sama, maka keahlian pun tidak jauh beda. Tapi pemuda dua ini hanya bangga akan tempat asalnya, tanpa ada keahlian sedikitpun. Ada sih keahlian yang lain, tapi bukan untuk perang. Masalahnya dia ini mau perang.
Pemuda tiga, termasuk orang yang rajin latihan, sangat rajin. Tapi tidak pernah mendengarkan instruksi siapapun. Alat latihannya pun paling canggih dari yang lain, selalu latihan, dan selalu di level itu-itu saja.
Nah, pemuda empat ini adalah orang yang baru mengenal dunia peperangan ini. Dia nihil pengetahuan juga keahlian dibanding yang lain. Terus kenapa milih untuk perang? Nggak tau juga, katanya sih menyenangkan, makanya dia ikut.
Setelah bertemu pelatih di tempat latihan. Mereka disuruh menunjukan kemampuan mereka. Ternyata keempat pemuda ini belum ada yang memenuhi standar. Maka mereka harus melewati tahap awal hingga akhir agar siap perang. Pelatihnya ada empat orang. Masing-masing pelatih memberi test yang berbeda-beda.
Selama latihan, keempat pemuda ini melihat beberapa veteran yang sudah berhasil dan menang di medan perang. Mereka tampak keren dan sangat wibawa. Melihat para veteran ini, maka keempat pemuda ini pun tidak sabar untuk segera turun berperang. Masalahnya mereka belum cukup dan belum matang. Pelatihpun berusaha memberi nasihat, melarang mereka, karena mereka pasti belum siap.
Pemuda satu dia nekad langsung turun berperang, karena dia dapat modal dari saudagar untuk membeli alat-alat canggih. Dengan berharap dengan alat canggih, walau skill pas-pasan, dia bisa menang.
Pemuda tiga juga siap berperang, dia sudah punya alat-alat canggih sebelumnya. Jadi dia sangat yakin.
Pemuda dua ini sebelumnya sudah diikuti dalam simulasi perang. Tapi dia gagal dan kalah. Maka sekarang dia trauma, dan tidak melanjutkan latihannya. Entah apa yang dilakukannya sekarang.
Beberapa bulan kemudian. Ketika suatu saat pemuda empat ini hendak pergi, pelatih pun menegurnya, ya betul keempat pelatih ini. Mereka bilang, kamu jangan turun dulu, lihat tuh teman-teman kamu. Si Pemuda satu terpojok di medan perang dengan bersimbah darah, masih ada jalan untuk pulang ke tempat latihan. Entah dia melihatnya atau tidak. Si Pemuda tiga pun tetap berperang, walau sudah terkepung dan hampir kalah, tapi selalu punya alat canggih untuk bertahan. Entah sampai kapan dia mengandalkan alat terus. Pemuda dua pun sudah tidak terlihat lagi aktifitasnya. Hanya sesekali menjenguk pemuda empat yang sedang latihan tanpa komentar.
“Kamu itu keahliannya masih di bawah mereka” kata pelatih. “Tapi masih nekad aja mau ke medan perang! Pikir dong!” masih kata pelatih. Akhirnya si pemuda empat itu pun terus latihan hingga dia bisa siap turun untuk berperang.
Tiba – tiba pemuda dua datang dan berkomentar seraya sedikit bercemo’oh “Mau sampai kapan latihan terus? Gak capek apa?”. Lalu si pemuda empatpun menjawab “Semakin banyak keringat yang keluar saat latihan, semakin sedikit darah yang keluar saat berperang”
Si pemuda empat itu pun terus latihan, dan berharap teman-temannya pun ikut latihan kembali, supaya bisa perang bersama dan menang bersama.
Keren. Sekian